Jul
5
2016

Kematian dan Kesempatan

Benar bahwa tidak ada manusia yang dapat melawan waktu, kita hanya akan sekejap saja bersandiwara di dunia fana ini, semakin hari kita akan bertambah umur alias tua, sampai pada akhirnya meninggal dan dibangkitkan kembali pada Yaumul Qiyamah untuk menjalani kehidupan akhirat, mempertanggungjawabkan hasil setiap detik ujian yang kita jalani selama hidup di dunia.

Pernahkan terbayang pada suatu saat yang pasti, tubuh kita akan kaku tak bernafas dan dikubur terbalut kain kafan (atau dengan uparaca kematian lainnya, tergantung budaya dan agama yang dianut tentunya). Apabila belum pernah membayangkannya, mari sejenak pejamkan mata dan merenung untuk melihat kedepan bahwa kita pasti akan meninggalkan dunia ini, seperti yang yang dimodelkan oleh matematika dan statistika melalui survival model bahwa  survival model , kemungkinan seseorang untuk hidup selamanya adalah 0 atau tidak ada.

Untuk itu Nabi Muhammad S.A.W pernah memberikan tips pengelolaan risiko dalam menjalani kehidupan ini, prioritas untuk mengoptimalkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara (H.R Al Hakim),

  • Waktu mudamu sebelum datang masa tuamu
  • Waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu
  • Waktu kayamu sebelum datang masa kefakiranmu
  • Waktu luangmu sebelum datang masa sempitmu
  • Waktu hidupmu sebelum datang kematianmu

Kemudian tips Nabi yang lainnya adalah (H.R Muslim) “jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”.

Kematian adalah risiko yang likelihood-nya 100% pasti terjadi, cara mengelolanya sudah jelas, optimalkan atas kesempatan lima perkara sebelum datang lima perkara dan berinvestasi pada tiga perkara yang pahalanya tidak akan terputus walaupun sudah meninggal dunia.

Kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali, begitu kata pepatah. Dalam madzhab yang lain meyakini bahwa kesempatan itu diciptakan oleh tangan sendiri yang persisten dengan apa yang menjadi tujuan hidupnya di dunia maupun akhirat.  Keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan persiapan, probabilitas untuk meraih keberuntungan mutlak adalah mendekati nol, jadi tidak akan ada hasil tanpa adanya usaha yang maksimal walaupun kesempatan sudah didepan mata.

Kesempatan untuk mengalami masa anak-anak yang tiada hari tanpa bermain dan bersenang-senang mungkin tidak akan kembali dua kali, tapi beberapa kesempatan kita bisa menciptakan dan mengulangnya lagi, salah satunya adalah kesempatan untuk kembali ke masa kuliah bagi yang telah berkeluarga dan sibuk bekerja.

Begitupun keputusan untuk melanjutkan sekolah yang saya ambil hampir satu tahun yang lalu dan masih saya jalani saat ini, ditengah kesibukan sebagai seorang ayah, suami dan karyawan perusahaan, kuliah lagi adalah anugerah dan salah satu dari sedikit kesempatan yang bisa diulang kembali. Alhamdulillah saya bisa lanjut kuliah lagi di jurusan MM Aktuaria Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dengan full scholarship dari Prudential tanpa ikatan apa-apa.

Petualangan tentang kuliah akan saya bahas pada tulisan lainnya, namun pada kesempatan yang sangat baik di bulan Ramadhan ini dan menjelang idul fitri yang tinggal satu hari lagi, saya mendoakan “semoga Allah menerima puasa & amal kami sekeluarga, juga puasa & amal teman sekalian” (bagi yang berpuasa tentunya), mohon maaf lahir dan bathin. Berharap tahun depan kita masih diberikan kesempatan umur untuk kembali bertemu dengan Ramadhan yang penuh kebekahan, Aamiin.

About the Author: Andri Apriyana SA CISA, CEH

IT Audit Manager @ Group Audit and Risk Advisory - PT Astra International Tbk
Certified in Global IS Auditing and Ethical Hacking
Council Member for Standard Nasional Indonesia (SNI-WG2),
- Manajemen Layanan TI (IT Service Management - ISO/IEC 20000)
- Tata Kelola TI (Corporate Governance of IT - ISO/IEC 38500)

Leave a comment